Masih banyak anggapan bahwa Generasi Z (Gen-Z) akan semakin sulit membeli rumah. Pandangan tersebut bukan tanpa alasan. Harga properti di berbagai daerah terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, sementara biaya hidup juga semakin tinggi. Pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari, transportasi, pendidikan, hingga gaya hidup digital membuat ruang untuk menabung menjadi semakin sempit.
Di sisi lain, pertumbuhan pendapatan belum mampu mengimbangi kenaikan harga rumah. Banyak pekerja muda yang baru memulai karier juga masih menghadapi tantangan berupa gaji yang terbatas, status pekerjaan yang belum tetap, hingga persaingan kerja yang semakin ketat. Kondisi tersebut membuat impian memiliki rumah terasa semakin jauh.
Namun, membeli rumah bagi Gen-Z bukanlah hal yang mustahil. Dengan perencanaan keuangan yang baik, strategi yang tepat, dan disiplin dalam mengelola penghasilan, generasi muda tetap memiliki peluang untuk menjadi pemilik rumah. Berikut beberapa panduan yang dapat menjadi langkah awal.
1. Tentukan Tujuan dan Target yang Realistis
Langkah pertama adalah menentukan tujuan membeli rumah. Apakah rumah tersebut akan ditempati sendiri, digunakan sebagai investasi, atau dipersiapkan untuk kebutuhan keluarga di masa depan?
Setelah tujuan ditetapkan, tentukan pula target harga rumah yang sesuai dengan kemampuan finansial. Jangan langsung mengincar rumah di lokasi premium jika kondisi keuangan belum memungkinkan. Banyak kawasan penyangga kota yang menawarkan harga lebih terjangkau dengan akses transportasi yang semakin baik.
Menentukan target yang realistis akan membantu menyusun rencana keuangan secara lebih terarah.
2. Hitung Kemampuan Finansial
Sebelum mencari rumah, penting untuk mengetahui kemampuan finansial secara objektif. Hitung seluruh pemasukan rutin setiap bulan, kemudian kurangi dengan seluruh kebutuhan wajib seperti biaya makan, transportasi, cicilan, dan tabungan.
Idealnya, total cicilan rumah tidak melebihi sekitar 30 persen dari pendapatan bulanan. Dengan demikian, kondisi keuangan tetap sehat dan tidak mengganggu kebutuhan sehari-hari maupun dana darurat.
Melakukan simulasi cicilan sejak awal juga dapat membantu menentukan kisaran harga rumah yang sesuai dengan kemampuan.
3. Mulai Menabung untuk Uang Muka
Salah satu tantangan terbesar membeli rumah adalah menyiapkan uang muka atau down payment (DP). Besarnya DP bervariasi, tergantung kebijakan bank maupun pengembang.
Karena itu, semakin cepat mulai menabung, semakin besar peluang memiliki rumah dalam beberapa tahun ke depan. Sisihkan sebagian penghasilan secara otomatis setiap menerima gaji agar dana tersebut tidak terpakai untuk kebutuhan konsumtif.
Apabila memperoleh bonus, insentif, atau pendapatan tambahan dari pekerjaan sampingan, alokasikan sebagian untuk mempercepat pengumpulan dana DP.
4. Bangun Riwayat Kredit yang Baik
Saat mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), pihak bank akan menilai riwayat kredit calon debitur. Riwayat pembayaran yang lancar menjadi salah satu faktor penting dalam proses persetujuan.
Oleh karena itu, biasakan membayar seluruh tagihan tepat waktu, baik cicilan, kartu kredit, maupun layanan paylater jika memang digunakan. Hindari tunggakan yang dapat memengaruhi penilaian bank di kemudian hari.
Memiliki riwayat kredit yang sehat juga membuka peluang memperoleh bunga pinjaman yang lebih kompetitif.
5. Kurangi Pengeluaran Konsumtif
Gaya hidup sering kali menjadi tantangan terbesar bagi generasi muda dalam mengumpulkan dana membeli rumah. Kebiasaan berbelanja impulsif, mengikuti tren, atau terlalu sering makan di luar dapat mengurangi kemampuan menabung.
Bukan berarti harus berhenti menikmati hidup, tetapi penting untuk menetapkan prioritas. Mulailah membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Pengeluaran kecil yang dilakukan secara rutin mungkin terlihat sepele, tetapi jika diakumulasi selama beberapa tahun dapat menjadi modal yang cukup besar untuk uang muka rumah.
6. Manfaatkan Program dan Promo
Pemerintah maupun perbankan kerap menghadirkan berbagai program yang membantu masyarakat memiliki rumah. Misalnya subsidi bunga, bantuan uang muka, atau program khusus bagi masyarakat berpenghasilan tertentu.
Selain itu, pengembang juga sering menawarkan promo berupa diskon harga, bebas biaya administrasi, atau DP ringan pada waktu-waktu tertentu.
Sebelum membeli rumah, luangkan waktu untuk membandingkan berbagai pilihan program agar memperoleh skema pembiayaan yang paling menguntungkan.
7. Pertimbangkan Rumah Pertama sebagai Batu Loncatan
Rumah pertama tidak harus menjadi rumah impian. Banyak orang memulai dengan membeli rumah berukuran kecil atau berada di kawasan yang masih berkembang.
Seiring meningkatnya penghasilan dan nilai properti, rumah tersebut dapat dijual atau disewakan sebagai aset investasi. Hasilnya kemudian dapat digunakan untuk membeli rumah yang lebih besar atau berada di lokasi yang lebih strategis.
Cara ini menjadi salah satu strategi yang banyak diterapkan oleh generasi muda agar lebih cepat memiliki aset properti.
8. Cari Penghasilan Tambahan
Mengandalkan satu sumber penghasilan terkadang belum cukup untuk mengejar kenaikan harga rumah. Karena itu, mencari pendapatan tambahan dapat menjadi solusi.
Saat ini tersedia banyak peluang, mulai dari pekerjaan lepas (freelance), bisnis online, menjadi kreator konten, hingga membuka usaha kecil sesuai keahlian yang dimiliki.
Pendapatan tambahan tersebut dapat difokuskan sepenuhnya untuk dana DP atau mempercepat pelunasan cicilan rumah.
9. Jangan Menunda Terlalu Lama
Banyak orang menunggu kondisi yang dianggap “sempurna” sebelum membeli rumah. Padahal, harga properti cenderung terus meningkat dari tahun ke tahun.
Jika kondisi keuangan sudah cukup stabil dan memenuhi persyaratan KPR, tidak ada salahnya mulai mencari rumah yang sesuai kemampuan. Menunda terlalu lama justru berpotensi membuat harga rumah semakin sulit dijangkau.
Yang terpenting adalah memastikan keputusan membeli rumah dilakukan berdasarkan perhitungan yang matang, bukan karena tekanan lingkungan atau sekadar mengikuti tren.
Baca Juga: https://safiragrup.com/lebih-baik-mana-rumah-2-lantai-atau-1-lantai/
Kesimpulan
Tantangan memiliki rumah bagi Gen-Z memang lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Kenaikan harga properti, biaya hidup yang semakin tinggi, serta pertumbuhan pendapatan yang belum seimbang membuat proses membeli rumah membutuhkan usaha lebih besar.
Meski demikian, kesempatan memiliki rumah tetap terbuka. Kuncinya terletak pada perencanaan keuangan yang disiplin, kebiasaan menabung sejak dini, menjaga kesehatan finansial, serta memilih rumah yang sesuai dengan kemampuan.
Alih-alih fokus pada anggapan bahwa rumah semakin mustahil dimiliki, Gen-Z dapat mulai mengambil langkah-langkah kecil dari sekarang. Dengan strategi yang tepat dan konsistensi dalam mengelola keuangan, impian memiliki rumah bukan lagi sekadar angan, melainkan target yang dapat dicapai secara bertahap.


